Bagai pedang membelah
Teriris mengiris
Nadi terluka, nanah terburai
Mengapa bukan darah ?
Terlalu perihkah ?
Gontai dia melangkah
Diantara keeping-keping sembilu
Meleleh diantara kulit
Menetes disudut mata hati
Jika aku bertanya benarkah kau akan kembali ?
Mengapa aku tetap tak berdaya
Segenggaman pasir panas ditangan ini
Tak berasa karena perihmu
Sengat di rongga hati
menangis menahan luka
Tangis tak kuat lagi
Menangis tapi kering
Lunglai aku tertatih
Mengais-ngais diantara hampa
Inikah yang kunanti ?
Mengapa kau tak kunjung kembali ?
Janjimu kau pasti datang
Mana ?
Kapan ?
Aku masih ingin menangis
Namun hanya ada kering
Aku menengadah sebentar
Langit menatapku nanar
Gemuruh tanda amarah
Tercekat kelu lidah ku
Tak mampu mengucap apa-apa
Tuhan,
Apakah waktunya sudah sampai?
Aku rindu malaikat tak bersayap
menjemputku…
*
*
*
*
buah karma dosa adalah maut
dan aku ikhlas menerimanya
Rabu, Mei 13, 2009
DAN JIWA-JIWA LANGIT PUN MENANGIS
Oh betapa nestapa sungguh tiada nan ramah terlihat
Celaan dan sumpahan menjadi makanan
Seakan-akan adalah vitamin kehidupan
Menambah energi raga jiwa gelapnya
Kepongahan adalah nadi yang membakar
Adalah heran jika sabar
Amarah menjadi adat istiadat
Mencekik bahasa hujat menghujat
Duhai adakah yang melihat ?
Seonggok jiwa kedinginan
Lapar dahaga menjadi teman
Nista di hina di pandang bagai si buruk rupa
Duhai adakah yang melihat ?
Seonggok jiwa terbodoh tak ber asa
Lapar bahasa lapar ilmu
Terseok-seok mengais diantara nista
Tangisan langit tangisan dunia
Merintih mendengar dendang serapah
Mengapalah carut marut tak pernah usai
Dimanakah jiwa-jiwa damai yang dahulu ?
Apatah murka RAJA tak berarti tanda ?
Tak gentarkah jika cobaan itu kembali dihantar ?
Tonggak panas yang diperebutkan
Menjadi saksi bahwa damai tlah tiada
Jika angkara menjadi murka
Dan jiwa-jiwa langitpun menangis
Apakah aku harus terpaku dalam diam
Mungkin menunggu RAJA kembali adalah harap
Celaan dan sumpahan menjadi makanan
Seakan-akan adalah vitamin kehidupan
Menambah energi raga jiwa gelapnya
Kepongahan adalah nadi yang membakar
Adalah heran jika sabar
Amarah menjadi adat istiadat
Mencekik bahasa hujat menghujat
Duhai adakah yang melihat ?
Seonggok jiwa kedinginan
Lapar dahaga menjadi teman
Nista di hina di pandang bagai si buruk rupa
Duhai adakah yang melihat ?
Seonggok jiwa terbodoh tak ber asa
Lapar bahasa lapar ilmu
Terseok-seok mengais diantara nista
Tangisan langit tangisan dunia
Merintih mendengar dendang serapah
Mengapalah carut marut tak pernah usai
Dimanakah jiwa-jiwa damai yang dahulu ?
Apatah murka RAJA tak berarti tanda ?
Tak gentarkah jika cobaan itu kembali dihantar ?
Tonggak panas yang diperebutkan
Menjadi saksi bahwa damai tlah tiada
Jika angkara menjadi murka
Dan jiwa-jiwa langitpun menangis
Apakah aku harus terpaku dalam diam
Mungkin menunggu RAJA kembali adalah harap
Selasa, Mei 05, 2009
Mencoba
Aku mencoba menerima apapun yang kuhadapi dan kualami aku percaya bahwa semua akan indah pada waktunya
Send from my BlueBerry® Powered by my Strawberry •(^_^)•
Send from my BlueBerry® Powered by my Strawberry •(^_^)•
Langganan:
Postingan (Atom)